Beruang kecil: Depresi
Beruang kecil baru saja sembuh sebulanan dari penyakit aneh yang namanya depresi dan kecemasan.
Penyakit ini membuat beruang kecil jadi sangat bermuatan negatif, emosi jadi tak terkontrol, sakit kepala, insomnia, dan paling parahnya jadi hidup segan mati tak mau. Penyebabnya bisa dibilang gak jelas dan sembuhnya juga tak jelas. Setelah melewati semuanya, beruang kecil masih saja merasa bingung sebenarnya, apakah masalah dulu baru depresi, depresi dulu maka menyalahkan masalah, atau masalahnya adalah depresi.
Kesembuhan mendadak yang tak jelas menjelang exam period juga agak membingungkan, karena menjelang exam period seharusnya beruang kecil makin stress. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, beruang kecil makin stabil saat belajar. Mungkin karena isi pikiran bukan lagi tentang hal-hal negatif tapi dipaksa diisi kisah2 perjuangan elektron, metal, ceramic, dsb. Satu hal yang pasti, pertolongan Gembala Domba datang pada waktu yang tepat dan gak ada satupun hal yang beruang kecil lalui tanpa Gembala Domba peduli.
Dalam proses bangkit lagi dari depresi, beruang kecil jadi belajar banyak hal, mulai dari keadaan spiritual dan hubungan dengan Gembala Domba saat depresi, hubungan dengan sesama manusia, sampai berbagai istilah psikologi. Jadi, beruang kecil mau membagikan beberapa hal yang mungkin bisa berguna.
1. Keadaan spiritual dan hubungan dengan Gembala Domba
Saat beruang kecil sedang depresi, Gembala Domba rasanya jauh sekali, tak bisa dihubungi, dan beruang kecil sering merasa dibiarkan sendirian. Beruang kecil jadi susah berdoa, mendengarkan lagu-lagu rohani serasa hampa, membaca Alkitab serasa makin membebani. Dari hari ke hari, beruang kecil jadi makin stress juga karena merasa bersalah tidak bisa menjalankan perintah Gembala Domba untuk tetap tidak mengeluh, memandang kepada Gembala Domba, serta tetap merasakan kesukacitaan. Beruang kecil jadi tidak bisa mempercayai Gembala Domba dengan hati dan hanya bisa dengan pengetahuan saja. Beruang kecil jadi ingat Yesus waktu disalibkan dan bertanya kenapa Tuhan meninggalkan Dia serta jadi membayangkan apa rasanya mirip-mirip seperti yang beruang kecil rasakan walau entah diamplifikasi beberapa kali lipat.
Melihat ke belakang, satu hal yang menurut beruang kecil sangat tidak perlu adalah perasaan bersalah bisa sampai berada di state seperti itu dan berhenti mempersalahkan diri karena merasa kurang iman, tidak patuh, tidak bisa menjalankan apa yang dipercayai, dsbnya. Mungkin sikap yang tepat adalah melihat keadaan spiritual dan emosional yang sedang “down” ini sebagai suatu ujian iman apakah jika merasa ditinggalkan akan tetap percaya pada Gembala Domba dan lebih berfokus pada terus-terusan berusaha dan memaksa diri untuk mencari Gembala Domba. Di samping itu, belajar untuk percaya bahwa pengenalan akan Gembala Domba adalah dari Firman dan bukan dari perasaan kita.
2. Hubungan dengan sesama dan diri sendiri
Saat beruang kecil sedang depresi, beruang kecil berubah jadi self centered, pikiran-pikiran negatif mudah menancap di otak, serta berubah menjadi complainer tingkat wahid. Dengan kondisi dan aura seperti demikian, beruang kecil sadar bahwa teman-teman beruang kecil lambat laun bakal tak tahan dengan semprotan ion-ion negatif beruang kecil. Maka, beruang kecil memilih untuk mengasingkan diri demi mencegah ledakan bom ion negatif ke banyak orang. Namun, tetap saja ada beberapa teman dekat beruang kecil yang jadi merasakan hawa-hawa negatif tersebut dan jadi stress juga. Beruang kecil mengucapkan terimakasih kepada orang-orang tersebut yang masih mau menjadi teman beruang kecil sampai sekarang.
Namun, dilihat kembali, pilihan beruang kecil untuk mengasingkan diri sebenarnya bukan pilihan yang baik. Karena semakin beruang mengasingkan diri, semakin banyaklah hawa-hawa negatif khas orang melan muncul dan membuat depresi makin parah. Jadi, kalau depresi, sekuat mungkin seret diri ke teman-teman.
Setelah melewati masa depresi, beruang kecil belajar untuk jadi tidak judgemental. Beruang kecil merasa bahwa sebenarnya tidak ada makhluk manapun yang benar-benar memahami penderitaan makhluk yang lain kecuali dirinya sendiri dan Gembala Domba. Jadi, beruang kecil belajar untuk lebih mengerti kesedihan orang lain dan tidak menyepelekannya. Beruang kecil juga belajar untuk lebih jujur kepada diri sendiri akan segala emosi yang beruang kecil rasakan, menganalisa, dan memahaminya. Biasanya sih beruang kecil hanya berpura-pura bahwa emosi itu tidak ada dan neglect itu semua.
Namun, jangan sampai terjadi mengasihani diri sendiri aja sih dan terus-terusan merasa paling susah sendiri sedunia aja sih. Hal yang sampe sekarang beruang kecil masih sering struggle untuk itu. Obat yang paling mujarab sebenarnya adalah memperhatikan orang-orang lain di saat seperti itu. Meskipun iya, susah sekali untuk dilakukan.
3. Istilah-istilah psikologi
Silakan dicari di web sendiri bagi yang berminat.=)
What Happens to Your Brain While Praying?
Tibetan monks and Franciscan nuns
So Dr Newberg invited local communities of Tibetan monks and Franciscan nuns into the laboratory where, using radioactive tracers, he could monitor any changes in blood flow to the different regions of the brain during meditation. For this, Dr Newberg used a state-of-the-art imaging tool called a SPECT camera – SPECT stands for Single Photon Emission Computed Tomography – which detects radioactive emissions.
“Our volunteers were certainly very happy to take part in these experiments,” explains Dr Newberg, “as we explained to them that we were not trying to diminish their experience or explain away a deeply personal and profound event.”
Dr Andrew Newberg – reproduced from andrewnewberg.com So what was Dr Newberg’s team looking for and what did they find? Dr Andrew Newberg: “Our theories about what goes on in the brain during spiritual practices is that many different areas of the brain are involved – that there’s not one spot. Some people have talked about a “God Module” but we don’t really feel that way. When one looks at the broad array of religious experiences, they involve our emotions, thoughts, sensations, feelings – I think it really has to involve many different regions all working together.”
The main areas of the brain which the team thought would be involved include the Frontal lobes, which allows us to focus our attention, and the Parietal lobes, which help us distinguish ourselves from the outside world.
Altered sense of self-image
“When we stared looking at the results, we saw that a lot of our hypotheses were correct, says Dr Newberg. “When people meditated, they activated this front attention-focussing area of the brain and turned off this orientation, parietal part of the brain – basically blocking the sensory input into that part of the brain, which would be associated with an altered sense of self-image. We also saw a very significant increase in activity in an area known as the thalamus which plays a key-role in allowing parts of the brain to ‘talk’ to each other.”
So what does all this mean? Did God create the brain or does the brain create God? Dr Newberg remains open-minded:
“We’ve tried to come down in the middle – to find ways to bring science and religion together and to provide information to allow people to open up a dialogue, so that we can start asking the really big questions that all human beings have asked throughout time.”
My story
“Singaporeeeee I’m coming!!”, begitulah sorakan di hatiku saat aku pertama mendengar kabar bahwa aku berhasil diterima di NTU tiga tahun lalu.
Tidak pernah terbersit di pikiranku bahwa aku akan mengalami pengalaman yang unik selama tahun-tahunku di universitas.
And the story begins………
Contemplating
Rejoice in the Lord always. I will say it again: Rejoice! Let your gentleness be evident to all. The Lord is near. Do not be anxious about anything, but in everything, by prayer and petition, with thanksgiving, present your requests to God. And the peace of God, which transcends all understanding, will guard your hearts and your minds in Christ Jesus.
Kisah keluarga beruang
Keluarga beruang, adalah keluarga melankolis.
Papa beruang adalah orang plegmatis melankolis
Mama beruang adalah orang melankolis koleris
Cece beruang adalah orang melankolis plegmatis
Beruang kecil adalah orang melankolis koleris
Ada 2 makhluk berdarah panas
Ada 2 makhluk berdarah dingin
(Satu makhluk berdarah-darah di belakang, hanya bercanda)
Kisah keluarga beruang menghadapi kodok bawel yang ingin merampok madu keluarga beruang:
(Mama beruang dan beruang kecil)
MB:Kodok bawel harus segera dihabisi, kita harus panggang dia
sekarang juga!! Klo tidak dia akan berbahaya untuk
kelangsungan keluarga beruang!
BK: Betul mama!! Mari kita bikin dia jadi kodok goreng tepung
aja!
Setelah kodok dijadikan makan malam keluarga beruang
MB: Hmm…kasian juga ya kodok itu tadi. Duh menyesal, mungkin tadi kita terlalu emosi. Mungkin kita tadi agak terlalu cepat memutuskan dia harus dibantai. Mungkin dia masih bisa diajak ngomong baik-baik.
BK: Betul mama…saya jadi sedih juga. Aaaaa…tidakk…
Stress, depresi, menderita berkepanjangan.
Papa Beruang dan Cece Beruang
PB: Hmmm..kodok itu agak menjengkelkan ya. Sebaiknya diapakan ya?
CB: Mungkin dia cuman kurang madu papa, gpp deh kasih aja madunya.
PB: Begitu ya? Tapi sepertinya tidak begitu deh. Kan dia gak ada hak untuk ambil madu kita.
CB: Ya emang sih, tapi kasian juga liatnya.
PB: Ya udahlah, kasih deh, biar gak ribut.
Kodok dengan gembira meloncat-loncat membawa pulang madu
Abortion
Hmm, tadi pas katekisasi di gereja sempet bahas soal aborsi.
Saya agak heran sih dengan pendapat pendetanya soal aborsi . Karena saya kira dia bakal dengan cukup standard ngomong “Pokoknya gak boleh diaborsi”.
Ternyata, pendetanya bilang, “Itu adalah suatu pergumulan.” Kita yang tidak mengalami hal itu sendiri, jangan sampai menjadi orang yang menunjuk-nunjuk “Kamu seharusnya begini, gak boleh begitu”. Biarkan mereka yang mengalami itu bergumul saja. Dia cuman memberikan statement ini sampe di situ.
Saya sendiri cukup bingung dengan jawaban pak pendetanya sebenarnya dan sepertinya satu kelas katekisasi juga cukup heran, sampai ada satu orang yang akhirnya nyeletuk, “Nanti dipikirkan kalau kita yang mengalami saja deh.”
Lalu, ada satu momen yang bikin saya cukup tersadar tadi. Ada satu teman yang share masalahnya yang berat, dan dalam satu statementnya dia bilang, “Saya share ke orang yang ngerti dan bisa memahami saya. Karena mereka tidak tahu rasanya dan akan memberikan jawaban-jawaban yang bikin saya kesal dan mereka juga jadi kesal lama-lama.”
Dari situ sih, saya jadi memahami kenapa pak pendeta tadi bisa memberi jawaban yang cukup di tengah-tengah seperti itu. Dia tidak mau judgemental ke orang lain dan berusaha mengerti perasaan mereka dan tidak terburu-buru mengatakan bahwa aborsi tidak boleh dilakukan apapun alasannya.
Ada quote yang menarik juga soal aborsi dari satu orang di forum aznv.tv
If your not pregnant, desperate and suffering deep despair and physical trauma.. Shut up about it.
If your a man and the person carrying your child is desperate, suffering deep despair and physical trauma.. Help her
If a family member or friend is pregnant, desperate and suffering deep despair and physical trauma.. Help her
Other wise the situation is most definately NOT your bussiness.
The issue of abortion concerns a dibilitating parasitic growth. Which is something completely different from a pregnancy.
Interesting point of view, although pragmatic.
When you believe
Many nights we’ve prayed
With no proof anyone could hear
In our hearts a hopefull song
We barely understood
Now we are not afraid
Although we know there’s much to fear
We were moving mountains long
Before we knew we could
There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, it’s hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe
In this time of fear
When prayers so often prove(s) in vain
Hope seems like the summer birds
Too swiftly flown away
Yet now I’m standing here
My heart’s so full I can’t explain
Seeking faith and speaking words
I never thought I’d say
There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, it’s hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe
They don’t (always happen) when you ask
(Oh)
And it’s easy to give in to your fears
(Oh…Ohhhh)
But when you’re blinded by your pain
Can’t see your way straight throught the rain
(A small but )still resilient voice
Says (hope is very near)
(Ohhh)
There can be miracles
(Miracles)
When you believe
(Lord, when you believe)
Though hope is frail
(Though hope is frail)
It’s hard to kill
(Hard to kill, Ohhh)
Who knows what miracles,you can achieve
When you believe, somehow you will(somehow,somehow, somehow)
somehow you will
You will when you believe
You will when you
You will when you believe
Just believe…in your heart
Just believe
You will when you believe~
Kenalkah?
Testi-testi tipikal orang pas ultah:
“Kenal A di subcom club, orangnya berani, kritis, cerdas, dll”
“Lebih mengenal B sewaktu sama-sama mengikuti kegiatan….”
“Saya kenal dia karena tetangga di hall…, orangnya bla2..”
“Sejak SMA sama-sama……, sudah mengenal selama…”
Saya sering bingung jika dimintai testi, terutama bingung karena saya merasa kurang mengenal orang yang saya kasih testi dan merasa bahwa testi yang saya berikan sebenarnya bukan yang orang itu inginkan.
Kebanyakan hubungan saya dengan orang lain adalah hubungan-hubungan fungsional dan bukan yang personal. Maksudnya, saya mengenal orang lain sebagai “maincomm yang baik”, “tetangga yang ramah”, “teman sekelas yang suka tidur”, “subcomm yang berkomitmen” tapi saya tidak mengenal mereka sebagai “manusia”. Jadi, saat diminta testi, yang bisa saya deskripsikan tentang orang itu pun hanya sejauh interaksi dalam hubungan fungsional. Sedangkan, jika saya di posisi sebagai pihak yang minta testi, saya merasa keinginan terdalam saya bukan deskripsi peran saya, tapi benar-benar sebagai “manusia”.
Saya jadi memikirkan apakah saya mengenal orang-orang terdekat saya secara fungsional atau personal sebenarnya. Contoh paling nyata adalah keluarga saya. Apakah saya mengenal papa, mama, dan cece saya secara pribadi? Atau hanya sebatas peran mereka sebagai orang tua dan saudara?
Dan saya mendapati bahwa selama 21 tahun saya hidup, saya tidak mengenal mereka sebagai “manusia”. Sebaliknya, mereka mungkin juga tidak terlalu mengenal saya, atau mungkin yang mereka ingat tentang saya adalah saya yang masih anak-anak. Teman-teman terdekat saya, malah mungkin lebih mengenal saya secara pribadi dibanding mereka. Aneh tapi nyata, orang-orang yang seharusnya terdekat bagi saya ternyata adalah orang-orang yang tidak begitu saya kenal.
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Setelah dipikir-pikir lagi intinya adalah kurangnya komunikasi.
Sejak SMA saya sudah sekolah di luar kota, pulang ke rumah hanya sabtu minggu. Karena saya orangnya cukup tertutup maka saya pun jarang cerita kejadian yang terjadi. Orang tua yang mungkin juga bingung mau nanya apa akhirnya cuman mengajukan dua macam pertanyaan setiap kali telepon “Sudah makan?” “Pelajaran baik?” Dan jawaban saya selalu sama selama 6 tahun, “Sudah makan” dan “Semuanya baik”. ^^;;;
Saya pun jarang bertanya mengenai kejadian-kejadian apa saja yang terjadi di rumah jika mereka tidak cerita.
Pulang ke rumah pun saya mendapati saya hanya berelasi secara fungsional dengan orang tua saya, bantu toko, bersih-bersih rumah, dan hal-hal seperti itu lah. Terakhir pulang ke rumah, saya sadar saya tak bisa mendeskripsikan apapun tentang orang tua dan saudara saya secara personal. Saya hanya mendeskripsikan mereka sebagai orang tua yang baik karena bekerja keras demi anak-anaknya dan kakak yang pandai serta lemah lembut.
Sejak menyadari hal itulah saya mulai berusaha membuka diri dan berkomunikasi dengan mereka secara lebih personal. Agak terlambat memang, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Cukup susah untuk mencoba mengenal mereka secara personal sebenarnya. Mungkin karena terus-terusan ingat untuk menjalankan peran fungsional sebaik mungkin, maka jadi agak sulit untuk membuka diri secara personal, setidaknya itu yang saya rasakan pada diri sendiri.
Merenung
He washed my eyes with tears that I might see,
The broken heart I had was good for me;
He tore it all apart and looked inside,
He found it full of fear and foolish pride.
He swept away the things that made me blind
And then I saw the clouds were silver lined;
And now I understand ’twas best for me
He washed my eyes with tears that I might see.
He washed my eyes with tears that I might see
The glory of Himself revealed to me;
I did not know that He had wounded hands
I saw the blood He spilt upon the sands.
I saw the marks of shame and wept and cried;
He was my substitute for me He died;
And now I’m glad He came so tenderly;
And washed my eyes with tears that I might see.
December 22, 2009
December 18, 2009



October 24, 2009