Fabel @ NTU

Posted On May 30, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped 6 responses

Beruang kecil duduk sendirian di meja cafe the quad sambil menyantap makan siangnya yaitu sepiring ikan rebus. Beruang kecil yang melankolis ini mulai memikirkan banyak hal-hal tentang kehidupan sembari makan pelan-pelan. Terpikir olehnya keluarga beruang yang ada di desa beruang, “Sedang apa mereka? Apakah mereka juga makan siang seperti aku?”

Pikiran beruang kecil terpotong oleh bentakan seekor panda jantan yang mengoceh dalam bahasa kucing yang dipandakan. Untungnya, beruang kecil sudah cukup lama tinggal di negeri panda perantauan dan mengerti apa yang panda jantan teriakan, “Jangan ambil makanankuuuuu!!!”

Beruang kecil tersinggung, karena ikan yang sedang dimakannya jelas-jelas merupakan hasil jerih payah beruang kecil sendiri terjun ke nanyang lake. Beruang kecil mengangkat kepalanya dan mengerjapkan matanya. Ternyata, arah pandangan si panda jantan besar tidak mengarah ke dirinya, melainkan seekor panda betina berusia lanjut yang sedang membereskan tempat makan penghuni hutan NTU.

Panda jantan terus berteriak-teriak, lalu menghampir panda betina tersebut dan merampas piring makanannya yang masih berisi setengah bambu goreng. Panda betina terkejut, dan meminta maaf kepada panda jantan karena tidak tahu dia belum selesai makan.

Namun, panda jantan yang masih emosi karena makanannya diambil sebelum dia selesai makan makin marah dan meminta panda betina memanggil manajer cafe untuk bertanggung jawab. Panda betina ketakutan dan meminta maap berulang-ulang. Namun, panda jantan terus saja marah-marah dan tidak mengindahkan permintaan maaf panda betina.

Beberapa panda muda yang ada di sekitar tempat kejadian memiliki bermacam-macam reaksi. Ada yang memandang dengan heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi, ada yang terus saja menyantap makan siangnya dan pura-pura tidak mendengar, ada yang berbisik-bisik kepada panda lain tentang perilaku panda jantan, ada juga yang sepertinya ingin membantu panda betina tetapi takut pada panda jantan.

Beruang kecil termasuk kelompok yang terakhir. Hati kecil beruang kecil sebenarnya jelas-jelas menyuruh beruang kecil untuk bangkit berdiri dan memarahi panda jantan. Namun, di sisi lain juga ada keengganan dari dalam diri beruang kecil karena takut kepada panda jantan. Akhirnya, beruang kecil tidak melakukan apa-apa dan hanya menonton mereka berdua.

Akhir cerita panda betina kabur dari tempat itu dan panda jantan meneruskan makan siangnya sambil menggeram-nggeram. Beruang kecil, merasa malu karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk panda betina.
Semoga beruang-beruang dan panda-panda lain tidak mengulang perbuatan beruang kecil dan memiliki lebih banyak keberanian.

Ayat-Ayat Cinta

Posted On May 19, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped 5 responses

Aku baru saja nonton film ini secara lengkap tadi subuh gara-gara ga bisa tidur.  Filmnya bagus, cukup bisa dimengerti oleh orang-orang yang bukan Islam meskipun butuh bantuan Wikipedia buat cari istilah-istilahnya.

 Salah satu hal yang menarik bagiku dalam film itu adalah soal ta’aruf, yaitu cara orang-orang Islam mencari pasangan hidup. Agak kecewa karena gambaran mengenai ta’aruf di film itu kok rada berbeda dengan definisinya yang di website-website. Kesannya kok di film itu hanya menonjolkan tahap nazhar (melihat wajah calon istri) doank gitu. Haha, sehingga pas muncul masalah di kemudian hari dengan cewe-cewe yang pernah dikenal ma Fahri, bisa saja orang berpendapat bahwa tahap ta’arufnya kurang komprehensif. Haha…

Some links of Islamic way in finding the soulmates

http://menikahsunnah.wordpress.com

http://konsultasi-islam.blogspot.com/2008/09/taaruf-dalam-islam.html

Benar-benar baru tahu kalau orang Islam memiliki cara seperti itu yang bagi saya keren dan sangat menjaga kesucian bagi mereka. Jadi tertarik dan keranjingan bacanya kemarin

. Saya orang Kristen, dan di beberapa website banyak yang menyebut-nyebut bahwa pacaran ala Nasrani itu adalah hal yang tidak boleh dilakukan, berbahaya, pasti gagal, dsb dst. Memang gak salah kalau orang-orang Islam menyalahkan cara mencari jodoh dipengaruhi kebudayaan barat yang bagi saya sendiri pun mengerikan. Cara pacaran seperti itu jelas salah, namun ngaco bukan karena agamanya gak mengajari yang bener, tapi karena kebudayaan yang gak mau menuruti agama. Intinya cara pacaran orang Kristen yang bener bukan kaya gitu kok. ^^

Saya hanya ingin menulis overview tentang apa yang saya mengerti dari cara pacaran Kristen yang benar dan ta’aruf dalam Islam yang benar-benar dilaksanakan. Iya, kedua-duanya yang ideal, yang benar. Gak banget untuk membandingkan hal yang ideal dengan yang tidak ideal dan menyalahkan yang tidak ideal. Tapi, maaf klo ada yang ngaco ya, ini bener-bener sejauh yang saya tangkep. Oh iya karena kurang pinter, saya nulisnya pendek kok. Gak banyak-banyak amat poinnya.

Konsep mengenai cara pacaran Kristen bisa dibaca di buku-buku sebagai berikut

 

I Kissed Dating Goodbye-Joshua Harris

Boy Meets Girl-Joshua Harris

The Journals of Jim Elliot- Ellisabeth Elliot

Quest for love-Ellisabeth Elliot

Passion and Purity-Ellisabeth Elliot

 

Yak, saya orang Kristen, jadi wajar lah ya klo referensi Kristennya lebih banyak dan buku, bukan website. Hehe…Untuk sekarang, cara mencari jodoh orang Islam bakal disebut ta’aruf dan cara mencari jodoh orang Kristen disebut courtship.

Baik ta’aruf dan courtship memiliki satu dasar yang sama yaitu commitment before intimacy. Konsep ini membicarakan bahwa orang harus berani berkomitmen dahulu sebelum bisa mendapatkan hadiah dari komitmen itu yaitu kedekatan. Kalau mau dekat, ya harus berkomitmen dulu. Ok, jika dilihat dari kalimat itu, ada dua kata yang mendasar, komitmen dan kedekatan.  Pertanyaan yang bisa muncul adalah, komitmen sampai segimana? Kedekatan yang sampai seperti apa?

Sejauh yang saya baca, orang Islam lebih radikal dalam menjalankan prinsip ini dibandingkan orang Kristen. Komitmen yang dituntut sangat tinggi (langsung lamaran-menikah) dan kedekatan yang didapat sangat minim sebelum berkomitmen (harus objektif dan tidak boleh menimbulkan fitna) lalu menjadi maksimal setelah berkomitmen. Bahasa anak materialnya abrupt junction. Hoho… Selain itu, aturan Islam sangat jelas dan detail mengatur mengenai seberapa kedekatan yang dimaksud, sebelum dan sesudah berkomitmen.

Dalam konteks orang Kristen, komitmen yang diambil meningkat secara berangsur-angsur (jadian-lamaran-menikah) dan kedekatannya pun berangsur-angsur meningkat namun lebih secara subjektif. Kenapa subjektif? Karena memang tidak diatur secara detail seberapa dekat seharusnya seseorang. Bisa jadi orang yang mengambil komitmen jadian sudah saling mengenal dengan baik (kognitif dan emotional, bukan physical), bisa juga hal semacam itu baru terjadi pada tingkat lamaran. 

Kalau dalam otak saya, peningkatan keduanya adalah linear.

Pada prakteknya, dalam konteks orang Islam proses saling mengenal secara mendalam mungkin baru terjadi setelah menikah dan berada dalam tingkat komitmen yang tinggi, yaitu menikah. Sedangkan pada orang-orang Kristen, proses saling mengenalnya ya selama jadian-sebelum menikah itu.

Konsep pernikahan orang Islam dan orang Kristen cukup berbeda. Dalam konsep agama Kristen, gak ada yang namanya perceraian sedangkan dalam Islam meski prosesnya rumit (berdasar wiki sih) tapi cerai itu bisa terjadi. Perbedaan pandangan dalam pernikahan ini juga yang mungkin membuat perbedaan tingkat kedekatan dan komitmen dalam Islam dan Kristen.

Untuk orang Kristen, menikah adalah kesempatan sekali seumur hidup, tak dapat diulang dan sekali berkomitmen dengan orang yang salah, maka konsekuensinya ditanggung seumur hidup. Karena itu, masa mengenalnya harus cukup mendalam serta harus melalui berbagai macam ujian kehidupan dulu.

Untuk orang Islam, sejauh yang saya mengerti, kelangsungan hubungan dianggap bakal lebih terjamin jika didahului komitmen. Dalam artian, orang akan lebih terbuka, lebih berusaha agar hubungan berjalan, serta serius karena telah terikat komitmen. Namun, jika yang paling parah tak terelakkan, cerai masih bisa dilaksanakan.

Menurut saya, dua-duanya memiliki cara pandang tersendiri serta memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya sama-sama mensakralkan komitmen pernikahan, namun dengan pendekatan yang berbeda.
Pada prakteknya, orang Kristen harus sangat berhati-hati dengan hati dan emosinya, karena ada hadiah “kedekatan” yang kadang bisa mengacaukan objektivitas (pengalaman pribadi :P ). Kalau orang Islam, jujur saya belum pernah mengalami seperti apa, tapi mungkin masa-masa ta’arufnya harus lebih komprehensif?

Kalau saya sendiri……

Saya percaya tidak ada satu jalan yang pasti untuk masalah jodoh. Cara cinta bekerja menurut saya sesuatu yang sangat subjektif, meskipun unsur-unsur yang objektif juga bekerja di dalamnya ^^

Puisi malem

Posted On May 14, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Tertulis kisah yang tak dapat diubah

Tentang riwayat sang pencerita

Yang mampu bercerita berbagai kisah

Namun bukan tentang dirinya

 

Ada kalanya dia ingin berkata-kata

Namun akhirnya hanya bertanya

Terlalu pentingkah dirinya untuk diberitakan

Serta teringat bahwa dialah sang pencerita

Berkabar dan berkisah, itulah seharusnya dia

 

Sang pencerita terus bercerita

Banyak orang tertawa

Banyak orang menangis

Banyak orang tersentak

Banyak orang terdiam malu

 

Hingga akhir hayatnya

Dia dikenal sebagai sang pencerita

Yang menceritakan berbagai kisah

 

Dia pergi dan tiada

Banyak orang bersedih,

Serta merindukan kisah-kisahnya

 

Namun siapakah dia?

Laksana sang penggembara

Tak seorangpun mengenal jiwanya

Tentu saja selain Pencipatanya