James 1:19 contextualized
Let every man be swift to read, slow to type, slow to wrath. Let each saint read and learn, but be careful not to type rashly, and especially in anger.
Since I communicate more in internet, this verse remind me a lot.
Jurus menawar
Beruang kecil akan membagikan sedikit dari salah satu jurus andalan keluarga beruang, yaitu, MENAWAR. Terlahir sebagai beruang keturunan panda yang masih totok, maka dunia tawar menawar sudah menjadi bagian dari kehidupan beruang.
Jurus menawar sudah didoktrinasikan sejak dini kepada beruang kecil sebagai salah satu survival kit yang paling esensial. Jurus ini juga telah terbukti mendukung kelangsungan hidup keluarga beruang sampai 3 garis keturunan di bumi tercinta Indonesia sebagai, tentu saja, pedagang. Maka, ijinkanlah beruang kecil bercerita sedikit mengenai jurus ini.
Ok, beruang kecil tidak begitu suka menawar. Bagi beruang kecil ,menawar hanya akan dicoba jika:
- Harga barang layak untuk ditawar (baik karena harganya mahal, tapi pengen barangnya ataupun karena yang jual gak masuk akal ngasih harganya)
- Punya waktu yang cukup (Seperti nasihat mentor FYP, “Give yourself more time when doing experiment!”, demikian juga kita harus bersedia meluangkan waktu untuk menawar)
- Mood, energy, dan konsentrasi (Kemampuan ketahanan mental, memutarbalikkan strategi lawan, dan pengendalian emosi sangat dibutuhkan)
- Barangnya bisa ditawar (beruang kecil tidak akan menawar barang yang ada di supermarket)
Pertama-tama, kita perlu mengenali jenis penjual yang barangnya bisa ditawar. Jangan percaya pada perkataan bahwa barang tertentu bisa ditawar dan yang lainnya tidak. Percayalah bahwa di muka bumi ini hampir segala jenis barang yang diperjualbelikan bisa ditawar, semua tergantung penjual.
Sejauh yang beruang kecil tahu, jenis penjual yang bisa ditawar adalah yang merespon kata kunci:”Any discount? Can you give me lower price?Any special promotion?”Meskipun tentu saja responnya macam-macam dari yang tiba-tiba turun harga 20 persen sampai yang dengan tegas menjawab “Fixed price!” tapi setelah didesak beberapa saat mulai mengikuti trend model penjual sebelumnya.
Setelah sukses mengenali jenis penjual dan menyebutkan magic word, maka mulailah proses saling lempar jurus, menangkis, dan counter attack dimulai. Berikut adalah beberapa jurus yang sering dipakai oleh penjual (penjualnya juga totok):
- Jurus Singa Mengaum
Kenapa disebut jurus Singa Mengaum? Karena jurus ini mencoba mengintimidasi pembeli dengan rasa takut, was-was, ataupun insecure. Modelnya bisa beragam dari yang agresif sampai yang tak terasa. Model yang paling brutal yang pernah beruang kecil temui adalah langsung pura-pura marah serta memaki-maki pembeli saat harga yang ditawar terlalu rendah sehingga pembeli jadi takut dan menaikkan harga tawaran (biasanya panda-panda asli suka melakukan hal ini).
Namun ada juga yang modelnya halus, yaitu dengan cara menakut-nakuti pembeli bahwa jika tidak membeli produk yang sedang dijualnya, maka akan terjadi sesuatu yang gawat terhadap pembeli. Contoh paling nyata adalah penjual kosmetik, dokter, pelangsingan, dsb.
Contoh:
“Miss, your skin got a lot of pimples you know! Aiya…got scar as well, you can’t let it like that! Later the scar will be with you forever and the pimples will become more! Oh…you have the eye bag as well! Must take care of your skin properly you know. Here’s my product, can heal everything……..”
Bisa dipahami trik intimidasinya? Penjual akan membuat pembeli merasa sangat insecure dan ketakutan sehingga terdorong untuk membeli dan tidak terlalu memperhatikan harganya.
Tips paling jitu untuk menghadapi tipe penjual seperti ini: Stay cool. Jangan menunjukkan tanda-tanda terpancing dan pura-pura cuek meskipun di dalam hati berbagai macam rasa muncul. Biarkan dia ngoceh panjang lebar, mengangguk-angguk sambil tersenyum, maka lama-lama sang penjual akan tahu dan mulai mengganti trik.
2.Jurus Tulus Seperti Merpati, Licik Seperti Rubah
Jurus ini biasanya berwujud “I offer this cheap price because I really care for your problem” Intinya penjual mencoba menawarkan harga dan mengambil simpati pembeli dengan tampak sangat perhatian pada kebutuhan pembeli. Cara ini akan membuat pembeli merasa special dan sejenak terhanyut oleh ketulusan penjual serta jadi agak menomorduakan harga.
Ok, jangan terhanyut dan selalu siaga. Ketahuilah bahwa di dunia nyata lebih banyak penjual frontline yang care terhadap terjualnya barang dagangannya dibanding benar-benar ingin memenuhi kebutuhan pembelinya. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa ada yang benar-benar ingin membantu anda.
3. Jurus Madu asli Beruang
Ini adalah jurus membuat anda merasa senang , meningkatkan ketertarikan anda terhadap suatu barang, kemudian memasang harga yang tinggi. Cukup straightforward dan umum. Nasihat biasa, jangan terhanyut.
4. Jurus melas2
Jurus ini biasa muncul di akhir dari tawar menawar, saat situasi penjual sudah mulai terdesak, kehabisan argumen, terlalu lama, atau tampak kehabisan jurus. Maka penjual akan mulai mendesak pembeli untuk menyetujui harga dengan cara “begging”. Bisa dengan membawa nama bos, company, pengalaman bekerja, dll untuk meminta anda bekerja sama dan membeli barang yang harga yang ditawarkan.
Contoh gamblang: “ Buy lah…I’ve given you so many discount already..even my bos will kill me if he know.”
Sampai titik ini tergantung seberapa kuat anda untuk tidak merasa kasihan kepada penjualnnya. Hoho…
5. Jurus maksa
Memotong waktu agar pembeli tidak sempat berpikir atau menawar dan langsung melakukan transaksi. Contoh: Membawa barang langsung ke kasir, membuatkan bon, dsb.
Tipsnya cuman satu, tegaslah dan katakanlah “TUNGGU SEBENTAR!”
Sebagai pembeli, kita sebenarnya memliki posisi yang kuat dalam barang-barang yang bisa ditawar. Beberapa tips dan mindset yang harus dimiliki:
- Jangan pernah terlalu cepat untuk membayar Bahkan sampai di kasir dan barang sudah dihitung, acara tawar menawar masih bisa dilakukan. Jangan pernah mau membayar jika anda belum merasa nyaman dengan transaksi.
- Stay cool dan ulur waktu Semakin lama waktu yang anda habiskan untuk menawar, semakin lemahlah posisi penjual. Hal ini disebabkan karena semakin lama acara tawar menawar dilakukan, semakin merasa sayanglah penjual akan waktu dan tenaga yang sudah dihabiskan sehingga sang penjual tidak ingin transaksi tidak berhasil.
Sekian…
Another thought…
Akhir-akhir ini topik depresi masih menarik untuk ditelusuri buat saya. Sebagian karena hal yang saya alami sangat aneh, asing, namun juga menakjubkan buat saya, sebagian lagi karena saya merasa hal ini cukup banyak tidak dimengerti orang serta masih adanya persepsi orang-orang terhadap kesehatan jiwa sebagai sesuatu yang kurang patut dibicarakan.
Saya mendapat kesan bahwa orang cenderung lebih bisa bersimpati dan bisa menerima jika mendengar seseorang terkena sakit jantung daripada mendengar seseorang terjangkit depresi. Cukup masuk akal sebenarnya, karena kebanyakan orang saat mendengar kata “sakit” mereka langsung merujuk kepada sakit secara fisik. Di luar fisik, itu bukan sakit, hanya masalah.
Melihat definisi WHO, tampaknya pengertian secara umum tentang sehat memang belum sempurna. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Beberapa percaya akan keberadaan roh. Tubuh dan jiwa saling mempengaruhi satu sama lain. Saat tubuh sakit, maka jiwa pun akan tidak sehat, demikian pula sebaliknya.
Namun, memang sakit secara fisik lebih mudah untuk dipelajari dan dimengerti karena kelihatan serta mudah diobservasi. Sedangkan jiwa adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat sehat tidaknya selain melalui penampakan fisik atau perbuatan. Manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi gelisah pada saat menghadapi hal-hal yang tidak dimengerti, dan tampaknya kesehatan jiwa adalah salah satunya.
Untuk mengatasi kegelisahan itu, maka dimunculkanlah stigma tabu, kutukan, dosa dll terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan mental. Perkembangan penyelidikan tentang kesehatan mental masih jauh sekali tampaknya jika dibandingkan dengan kemajuan di bidang kesehatan fisik. Contoh nyata adalah stigma buruk terhadap penderita kusta yang sudah terangkat dan tidak perlu takut dikucilkan karena sudah jelas sebab penyakit mereka yaitu bakteri dan mereka bisa sembuh.
Ok, cukup sudah omongan tentang kesehatan fisik vs mental. Saya cuman ingin mengemukakan pendapat tentang depresi yang agak-agak kurang dimengerti oleh orang lain atau bahkan penderita depresi itu sendiri. Ada beberapa anggapan umum yang menurut saya bisa didebatkan tentang depresi:
- Kepribadian
Ada kalanya orang menganggap bahwa depresi adalah masalah kepribadian. Ada orang-orang tertentu yang memang sudah dari sononya depresi. Saya tidak memungkiri bahwa orang-orang melankolis memang lebih rawan disangka dan terjangkit depresi. Selain karena kebanyakan pakai otak, mereka juga memiliki kecenderungan personality yang mirip dengan gejala-gejala depresi.
Namun, banyak kasus yang melaporkan adanya perubahan kepribadian secara drastis pada penderita depresi. Hal tersebut biasanya diamati oleh orang-orang lain di sekitarnya atau kalau kebetulan penderita depresi adalah orang melankolis, maka dia dengan sendirinya akan mengeluh bahwa dia merasa dirinya berubah tidak seperti biasanya. Menurut saya, sebenarnya para penderita depresi dengan berbagai kepribadian (dari yang riang, cuek, banyak omong, suka nangis, pemberani, penakut, dsb) berubah menjadi satu kepribadian baru saat terserang depresi, yaitu kepribadian depresi. Jadi, menurut saya, bukan karena kepribadian seseorang maka orang itu bisa depresi melainkan sebaliknya, depresi bisa menyebabkan kepribadian seseorang berubah.
2.Ada masalah maka depresi
Saat ditanya kenapa bisa depresi? Sebenarnya jawaban orang paling umum adalah ada masalah yang tidak bisa terselesaikan. Namun, sebagai salah satu orang yang pernah melewati kegelapan lembah depresi, saya dengan yakin bisa berkata bahwa tidak semua orang depresi karena ada masalah yang tak bisa terselesaikan. Saya lebih setuju bahwa depresi itu adalah suatu masalah.
Saya mengambil kesimpulan tersebut dari pengalaman saya. Pengalaman saya secara sistematis seperti ini. Saat menghadapi depresi, saya mengira bahwa saya depresi karena sebab A. Maka logikanya jika masalah A selesai maka saya tidak akan depresi lagi. Ternyata, yang terjadi adalah saat masalah A tetap ada bahkan memburuk, saya malah sembuh.
Saya pernah membaca kasus yang sebaliknya juga terjadi. Seseorang mengira dia depresi karena masalah B, saat masalah B selesai, ternyata dia tidak sembuh juga dan makin memburuk.
Maka…seperti apakah logika di balik depresi? Saya juga tidak tahu. Cara terbaik untuk mengetes factor apa sajakah yang ada di balik depresi adalah dengan mencoba teknik-teknik antidepresi satu persatu dan tidak mengkombinasikannya untuk mencapai kesembuhan. Namun, saya cukup yakin tidak banyak orang yang mau dijadikan subjek penelitian depresi saat dia mengalami depresi. Kesengsaraannya terlalu berat untuk harus menunggu dites satu persatu.
3. Hukuman Tuhan
Saya melihat pengalaman depresi saya sebagai suatu pengalaman rohani yang luar biasa dan setelah melewatinya saya bisa mengatakan adalah suatu privilege tersendiri untuk bisa melewati itu. Depresi adalah saat di mana iman saya diuji paling besar. Karena saya tidak bisa merasakan bahwa Tuhan ada. Saya diuji akankah saya terus menerus mencari Tuhan di saat-saat seperti itu? Saat-saat depresi adalah saat saya didorong untuk mempertanyakan dan memurnikan segala macam hal yang ada dalam diri saya. Apakah itu sudah selaras dengan yang Tuhan mau atau belum. Saat saya diberi kesempatan untuk mengincipi rasa neraka, lalu dikembalikan lagi ke bumi, beranikah saya menyia-nyiakan hidup saya ke depannya?
Yosh panjang juga tulisan saya….sekian. hoho…
Thankful
Saya berterimakasih kepada teman-teman saya yang sudah rela mengeluarkan tenaga untuk memarahi saya semester lalu. Saya tahu bahwa di saat-saat seperti itu, sudah pasti saya gak bisa bangkit lagi. ^^
Sometimes when someone already too desperate with his life, one way to show love is by scolding him, in love.
Someone in my heart
Ada satu orang di dunia ini yang sangat spesial buat saya, dan selama bertaun-taun saya sudah memusatkan hidup saya pada hidupnya.
Hidup saya adalah hidupnya, begitu pula sebaliknya.
Saya pernah mengenalnya sebagai seseorang yang tak kenal takut, yang selalu punya kisah heroik untuk diceritakan
Saya pernah mengenalnya sebagai sosok yang begitu emosional dan sensitif, yang membuat hari-hari saya begitu menyedihkan
Saya pernah mengenalnya sebagai orang yang begitu keras kepala, sampai saya memilih untuk tidak lagi berargumen dengannya
Saya pernah mengenalnya sebagai orang yang sangat berdedikasi dan melindungi, mau mengorbankan segala sesuatunya demi apa yang dicintainya
Saya pernah mengenalnya sebagai sosok yang terus berjuang, walau kondisi tidak memungkinkan, tapi dia terus berjuang untuk hidup
Saya pernah melihat sosoknya yang memohon untuk ditinggalkan, daripada menjadi beban
Saya pernah mengenalnya sebagai orang yang begitu saya sayangi tapi juga saya benci.
When the flower fades, would the leaves drop?
Could the leaves grow a new plant and blossom by itself?
Beruang kecil: Depresi
Beruang kecil baru saja sembuh sebulanan dari penyakit aneh yang namanya depresi dan kecemasan.
Penyakit ini membuat beruang kecil jadi sangat bermuatan negatif, emosi jadi tak terkontrol, sakit kepala, insomnia, dan paling parahnya jadi hidup segan mati tak mau. Penyebabnya bisa dibilang gak jelas dan sembuhnya juga tak jelas. Setelah melewati semuanya, beruang kecil masih saja merasa bingung sebenarnya, apakah masalah dulu baru depresi, depresi dulu maka menyalahkan masalah, atau masalahnya adalah depresi.
Kesembuhan mendadak yang tak jelas menjelang exam period juga agak membingungkan, karena menjelang exam period seharusnya beruang kecil makin stress. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, beruang kecil makin stabil saat belajar. Mungkin karena isi pikiran bukan lagi tentang hal-hal negatif tapi dipaksa diisi kisah2 perjuangan elektron, metal, ceramic, dsb. Satu hal yang pasti, pertolongan Gembala Domba datang pada waktu yang tepat dan gak ada satupun hal yang beruang kecil lalui tanpa Gembala Domba peduli.
Dalam proses bangkit lagi dari depresi, beruang kecil jadi belajar banyak hal, mulai dari keadaan spiritual dan hubungan dengan Gembala Domba saat depresi, hubungan dengan sesama manusia, sampai berbagai istilah psikologi. Jadi, beruang kecil mau membagikan beberapa hal yang mungkin bisa berguna.
1. Keadaan spiritual dan hubungan dengan Gembala Domba
Saat beruang kecil sedang depresi, Gembala Domba rasanya jauh sekali, tak bisa dihubungi, dan beruang kecil sering merasa dibiarkan sendirian. Beruang kecil jadi susah berdoa, mendengarkan lagu-lagu rohani serasa hampa, membaca Alkitab serasa makin membebani. Dari hari ke hari, beruang kecil jadi makin stress juga karena merasa bersalah tidak bisa menjalankan perintah Gembala Domba untuk tetap tidak mengeluh, memandang kepada Gembala Domba, serta tetap merasakan kesukacitaan. Beruang kecil jadi tidak bisa mempercayai Gembala Domba dengan hati dan hanya bisa dengan pengetahuan saja. Beruang kecil jadi ingat Yesus waktu disalibkan dan bertanya kenapa Tuhan meninggalkan Dia serta jadi membayangkan apa rasanya mirip-mirip seperti yang beruang kecil rasakan walau entah diamplifikasi beberapa kali lipat.
Melihat ke belakang, satu hal yang menurut beruang kecil sangat tidak perlu adalah perasaan bersalah bisa sampai berada di state seperti itu dan berhenti mempersalahkan diri karena merasa kurang iman, tidak patuh, tidak bisa menjalankan apa yang dipercayai, dsbnya. Mungkin sikap yang tepat adalah melihat keadaan spiritual dan emosional yang sedang “down” ini sebagai suatu ujian iman apakah jika merasa ditinggalkan akan tetap percaya pada Gembala Domba dan lebih berfokus pada terus-terusan berusaha dan memaksa diri untuk mencari Gembala Domba. Di samping itu, belajar untuk percaya bahwa pengenalan akan Gembala Domba adalah dari Firman dan bukan dari perasaan kita.
2. Hubungan dengan sesama dan diri sendiri
Saat beruang kecil sedang depresi, beruang kecil berubah jadi self centered, pikiran-pikiran negatif mudah menancap di otak, serta berubah menjadi complainer tingkat wahid. Dengan kondisi dan aura seperti demikian, beruang kecil sadar bahwa teman-teman beruang kecil lambat laun bakal tak tahan dengan semprotan ion-ion negatif beruang kecil. Maka, beruang kecil memilih untuk mengasingkan diri demi mencegah ledakan bom ion negatif ke banyak orang. Namun, tetap saja ada beberapa teman dekat beruang kecil yang jadi merasakan hawa-hawa negatif tersebut dan jadi stress juga. Beruang kecil mengucapkan terimakasih kepada orang-orang tersebut yang masih mau menjadi teman beruang kecil sampai sekarang.
Namun, dilihat kembali, pilihan beruang kecil untuk mengasingkan diri sebenarnya bukan pilihan yang baik. Karena semakin beruang mengasingkan diri, semakin banyaklah hawa-hawa negatif khas orang melan muncul dan membuat depresi makin parah. Jadi, kalau depresi, sekuat mungkin seret diri ke teman-teman.
Setelah melewati masa depresi, beruang kecil belajar untuk jadi tidak judgemental. Beruang kecil merasa bahwa sebenarnya tidak ada makhluk manapun yang benar-benar memahami penderitaan makhluk yang lain kecuali dirinya sendiri dan Gembala Domba. Jadi, beruang kecil belajar untuk lebih mengerti kesedihan orang lain dan tidak menyepelekannya. Beruang kecil juga belajar untuk lebih jujur kepada diri sendiri akan segala emosi yang beruang kecil rasakan, menganalisa, dan memahaminya. Biasanya sih beruang kecil hanya berpura-pura bahwa emosi itu tidak ada dan neglect itu semua.
Namun, jangan sampai terjadi mengasihani diri sendiri aja sih dan terus-terusan merasa paling susah sendiri sedunia aja sih. Hal yang sampe sekarang beruang kecil masih sering struggle untuk itu. Obat yang paling mujarab sebenarnya adalah memperhatikan orang-orang lain di saat seperti itu. Meskipun iya, susah sekali untuk dilakukan.
3. Istilah-istilah psikologi
Silakan dicari di web sendiri bagi yang berminat.=)
What Happens to Your Brain While Praying?
Tibetan monks and Franciscan nuns
So Dr Newberg invited local communities of Tibetan monks and Franciscan nuns into the laboratory where, using radioactive tracers, he could monitor any changes in blood flow to the different regions of the brain during meditation. For this, Dr Newberg used a state-of-the-art imaging tool called a SPECT camera – SPECT stands for Single Photon Emission Computed Tomography – which detects radioactive emissions.
“Our volunteers were certainly very happy to take part in these experiments,” explains Dr Newberg, “as we explained to them that we were not trying to diminish their experience or explain away a deeply personal and profound event.”
Dr Andrew Newberg – reproduced from andrewnewberg.com So what was Dr Newberg’s team looking for and what did they find? Dr Andrew Newberg: “Our theories about what goes on in the brain during spiritual practices is that many different areas of the brain are involved – that there’s not one spot. Some people have talked about a “God Module” but we don’t really feel that way. When one looks at the broad array of religious experiences, they involve our emotions, thoughts, sensations, feelings – I think it really has to involve many different regions all working together.”
The main areas of the brain which the team thought would be involved include the Frontal lobes, which allows us to focus our attention, and the Parietal lobes, which help us distinguish ourselves from the outside world.
Altered sense of self-image
“When we stared looking at the results, we saw that a lot of our hypotheses were correct, says Dr Newberg. “When people meditated, they activated this front attention-focussing area of the brain and turned off this orientation, parietal part of the brain – basically blocking the sensory input into that part of the brain, which would be associated with an altered sense of self-image. We also saw a very significant increase in activity in an area known as the thalamus which plays a key-role in allowing parts of the brain to ‘talk’ to each other.”
So what does all this mean? Did God create the brain or does the brain create God? Dr Newberg remains open-minded:
“We’ve tried to come down in the middle – to find ways to bring science and religion together and to provide information to allow people to open up a dialogue, so that we can start asking the really big questions that all human beings have asked throughout time.”
My story
“Singaporeeeee I’m coming!!”, begitulah sorakan di hatiku saat aku pertama mendengar kabar bahwa aku berhasil diterima di NTU tiga tahun lalu.
Tidak pernah terbersit di pikiranku bahwa aku akan mengalami pengalaman yang unik selama tahun-tahunku di universitas.
And the story begins………
Contemplating
Rejoice in the Lord always. I will say it again: Rejoice! Let your gentleness be evident to all. The Lord is near. Do not be anxious about anything, but in everything, by prayer and petition, with thanksgiving, present your requests to God. And the peace of God, which transcends all understanding, will guard your hearts and your minds in Christ Jesus.
February 8, 2010



