10.24.09
My story
“Singaporeeeee I’m coming!!”, begitulah sorakan di hatiku saat aku pertama mendengar kabar bahwa aku berhasil diterima di NTU tiga tahun lalu.
Tidak pernah terbersit di pikiranku bahwa aku akan mengalami pengalaman yang unik selama tahun-tahunku di universitas.
And the story begins………
09.30.09
Contemplating
Rejoice in the Lord always. I will say it again: Rejoice! Let your gentleness be evident to all. The Lord is near. Do not be anxious about anything, but in everything, by prayer and petition, with thanksgiving, present your requests to God. And the peace of God, which transcends all understanding, will guard your hearts and your minds in Christ Jesus.
09.03.09
Kisah keluarga beruang
Keluarga beruang, adalah keluarga melankolis.
Papa beruang adalah orang plegmatis melankolis
Mama beruang adalah orang melankolis koleris
Cece beruang adalah orang melankolis plegmatis
Beruang kecil adalah orang melankolis koleris
Ada 2 makhluk berdarah panas
Ada 2 makhluk berdarah dingin
(Satu makhluk berdarah-darah di belakang, hanya bercanda)
Kisah keluarga beruang menghadapi kodok bawel yang ingin merampok madu keluarga beruang:
(Mama beruang dan beruang kecil)
MB:Kodok bawel harus segera dihabisi, kita harus panggang dia
sekarang juga!! Klo tidak dia akan berbahaya untuk
kelangsungan keluarga beruang!
BK: Betul mama!! Mari kita bikin dia jadi kodok goreng tepung
aja!
Setelah kodok dijadikan makan malam keluarga beruang
MB: Hmm…kasian juga ya kodok itu tadi. Duh menyesal, mungkin tadi kita terlalu emosi. Mungkin kita tadi agak terlalu cepat memutuskan dia harus dibantai. Mungkin dia masih bisa diajak ngomong baik-baik.
BK: Betul mama…saya jadi sedih juga. Aaaaa…tidakk…
Stress, depresi, menderita berkepanjangan.
Papa Beruang dan Cece Beruang
PB: Hmmm..kodok itu agak menjengkelkan ya. Sebaiknya diapakan ya?
CB: Mungkin dia cuman kurang madu papa, gpp deh kasih aja madunya.
PB: Begitu ya? Tapi sepertinya tidak begitu deh. Kan dia gak ada hak untuk ambil madu kita.
CB: Ya emang sih, tapi kasian juga liatnya.
PB: Ya udahlah, kasih deh, biar gak ribut.
Kodok dengan gembira meloncat-loncat membawa pulang madu
08.22.09
Abortion
Hmm, tadi pas katekisasi di gereja sempet bahas soal aborsi.
Saya agak heran sih dengan pendapat pendetanya soal aborsi . Karena saya kira dia bakal dengan cukup standard ngomong “Pokoknya gak boleh diaborsi”.
Ternyata, pendetanya bilang, “Itu adalah suatu pergumulan.” Kita yang tidak mengalami hal itu sendiri, jangan sampai menjadi orang yang menunjuk-nunjuk “Kamu seharusnya begini, gak boleh begitu”. Biarkan mereka yang mengalami itu bergumul saja. Dia cuman memberikan statement ini sampe di situ.
Saya sendiri cukup bingung dengan jawaban pak pendetanya sebenarnya dan sepertinya satu kelas katekisasi juga cukup heran, sampai ada satu orang yang akhirnya nyeletuk, “Nanti dipikirkan kalau kita yang mengalami saja deh.”
Lalu, ada satu momen yang bikin saya cukup tersadar tadi. Ada satu teman yang share masalahnya yang berat, dan dalam satu statementnya dia bilang, “Saya share ke orang yang ngerti dan bisa memahami saya. Karena mereka tidak tahu rasanya dan akan memberikan jawaban-jawaban yang bikin saya kesal dan mereka juga jadi kesal lama-lama.”
Dari situ sih, saya jadi memahami kenapa pak pendeta tadi bisa memberi jawaban yang cukup di tengah-tengah seperti itu. Dia tidak mau judgemental ke orang lain dan berusaha mengerti perasaan mereka dan tidak terburu-buru mengatakan bahwa aborsi tidak boleh dilakukan apapun alasannya.
Ada quote yang menarik juga soal aborsi dari satu orang di forum aznv.tv
If your not pregnant, desperate and suffering deep despair and physical trauma.. Shut up about it.
If your a man and the person carrying your child is desperate, suffering deep despair and physical trauma.. Help her
If a family member or friend is pregnant, desperate and suffering deep despair and physical trauma.. Help her
Other wise the situation is most definately NOT your bussiness.
The issue of abortion concerns a dibilitating parasitic growth. Which is something completely different from a pregnancy.
Interesting point of view, although pragmatic.
08.21.09
When you believe
Many nights we’ve prayed
With no proof anyone could hear
In our hearts a hopefull song
We barely understood
Now we are not afraid
Although we know there’s much to fear
We were moving mountains long
Before we knew we could
There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, it’s hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe
In this time of fear
When prayers so often prove(s) in vain
Hope seems like the summer birds
Too swiftly flown away
Yet now I’m standing here
My heart’s so full I can’t explain
Seeking faith and speaking words
I never thought I’d say
There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, it’s hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe
They don’t (always happen) when you ask
(Oh)
And it’s easy to give in to your fears
(Oh…Ohhhh)
But when you’re blinded by your pain
Can’t see your way straight throught the rain
(A small but )still resilient voice
Says (hope is very near)
(Ohhh)
There can be miracles
(Miracles)
When you believe
(Lord, when you believe)
Though hope is frail
(Though hope is frail)
It’s hard to kill
(Hard to kill, Ohhh)
Who knows what miracles,you can achieve
When you believe, somehow you will(somehow,somehow, somehow)
somehow you will
You will when you believe
You will when you
You will when you believe
Just believe…in your heart
Just believe
You will when you believe~
08.19.09
Kenalkah?
Testi-testi tipikal orang pas ultah:
“Kenal A di subcom club, orangnya berani, kritis, cerdas, dll”
“Lebih mengenal B sewaktu sama-sama mengikuti kegiatan….”
“Saya kenal dia karena tetangga di hall…, orangnya bla2..”
“Sejak SMA sama-sama……, sudah mengenal selama…”
Saya sering bingung jika dimintai testi, terutama bingung karena saya merasa kurang mengenal orang yang saya kasih testi dan merasa bahwa testi yang saya berikan sebenarnya bukan yang orang itu inginkan.
Kebanyakan hubungan saya dengan orang lain adalah hubungan-hubungan fungsional dan bukan yang personal. Maksudnya, saya mengenal orang lain sebagai “maincomm yang baik”, “tetangga yang ramah”, “teman sekelas yang suka tidur”, “subcomm yang berkomitmen” tapi saya tidak mengenal mereka sebagai “manusia”. Jadi, saat diminta testi, yang bisa saya deskripsikan tentang orang itu pun hanya sejauh interaksi dalam hubungan fungsional. Sedangkan, jika saya di posisi sebagai pihak yang minta testi, saya merasa keinginan terdalam saya bukan deskripsi peran saya, tapi benar-benar sebagai “manusia”.
Saya jadi memikirkan apakah saya mengenal orang-orang terdekat saya secara fungsional atau personal sebenarnya. Contoh paling nyata adalah keluarga saya. Apakah saya mengenal papa, mama, dan cece saya secara pribadi? Atau hanya sebatas peran mereka sebagai orang tua dan saudara?
Dan saya mendapati bahwa selama 21 tahun saya hidup, saya tidak mengenal mereka sebagai “manusia”. Sebaliknya, mereka mungkin juga tidak terlalu mengenal saya, atau mungkin yang mereka ingat tentang saya adalah saya yang masih anak-anak. Teman-teman terdekat saya, malah mungkin lebih mengenal saya secara pribadi dibanding mereka. Aneh tapi nyata, orang-orang yang seharusnya terdekat bagi saya ternyata adalah orang-orang yang tidak begitu saya kenal.
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Setelah dipikir-pikir lagi intinya adalah kurangnya komunikasi.
Sejak SMA saya sudah sekolah di luar kota, pulang ke rumah hanya sabtu minggu. Karena saya orangnya cukup tertutup maka saya pun jarang cerita kejadian yang terjadi. Orang tua yang mungkin juga bingung mau nanya apa akhirnya cuman mengajukan dua macam pertanyaan setiap kali telepon “Sudah makan?” “Pelajaran baik?” Dan jawaban saya selalu sama selama 6 tahun, “Sudah makan” dan “Semuanya baik”. ^^;;;
Saya pun jarang bertanya mengenai kejadian-kejadian apa saja yang terjadi di rumah jika mereka tidak cerita.
Pulang ke rumah pun saya mendapati saya hanya berelasi secara fungsional dengan orang tua saya, bantu toko, bersih-bersih rumah, dan hal-hal seperti itu lah. Terakhir pulang ke rumah, saya sadar saya tak bisa mendeskripsikan apapun tentang orang tua dan saudara saya secara personal. Saya hanya mendeskripsikan mereka sebagai orang tua yang baik karena bekerja keras demi anak-anaknya dan kakak yang pandai serta lemah lembut.
Sejak menyadari hal itulah saya mulai berusaha membuka diri dan berkomunikasi dengan mereka secara lebih personal. Agak terlambat memang, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Cukup susah untuk mencoba mengenal mereka secara personal sebenarnya. Mungkin karena terus-terusan ingat untuk menjalankan peran fungsional sebaik mungkin, maka jadi agak sulit untuk membuka diri secara personal, setidaknya itu yang saya rasakan pada diri sendiri.
08.14.09
Merenung
He washed my eyes with tears that I might see,
The broken heart I had was good for me;
He tore it all apart and looked inside,
He found it full of fear and foolish pride.
He swept away the things that made me blind
And then I saw the clouds were silver lined;
And now I understand ’twas best for me
He washed my eyes with tears that I might see.
He washed my eyes with tears that I might see
The glory of Himself revealed to me;
I did not know that He had wounded hands
I saw the blood He spilt upon the sands.
I saw the marks of shame and wept and cried;
He was my substitute for me He died;
And now I’m glad He came so tenderly;
And washed my eyes with tears that I might see.
08.05.09
Mbah surip
Mbah surip, sosoknya begitu dikenal akhir-akhir ini, dengan lagu khasnya “Tak Gendong”. Laporan bahwa Mbah Surip telah mendapat uang 10 milyard dari hasil penjualan lagunya telah membuat banyak mata memandang baik yang dengan heran, takjub, meremehkan, maupun, mencemooh.
Saya sendiri, waktu pulang indo, sudah mendengar lagu “Tak gendong” itu baik dari pembantu tetangga yang nyetel lagu keras-keras, pedagang dvd, maupun tukang becak depan rumah. Biasanya diselingi dengan lagu “Lupa-lupa ingat” dari band kuburan juga. Sampe sekarang saya termasuk golongan orang yang merasa bahwa lagu itu musiknya enak tapi liriknya cukup tak dapat saya pahami. Hoho…
Anyway, satu fakta yang bikin saya kaget adalah bahwa mbah surip asalnya adalah orang Mojokerto, satu kota dengan saya. Another great man from Mojokerto ^^.
Turut berdukacita atas meninggalnya mbah Surip.
08.01.09
Kisah beruang-Hantu melankolia
Beruang kecil sedang sering didatangi hantu melankolia. Biasanya hantu melankolia datang di malam hari saat beruang kecil sedang mau tidur atau pagi-pagi saat baru bangun. Hantu melankolia sering menyerang dalam bentuk asap gelap di atas kepala, yang membikin dahi beruang kecil jadi hitam. Kadang-kadang, hantu melankolia juga menyerang beruang kecil dalam wujud memarahi beruang kecil atas segala macam kesalahan yang telah dilakukan hingga membuat beruang kecil ingin membaca puisi “Aku” karya Chairil Anwar.
Hantu melankolia menjadikan beruang kecil sebagai makhluk yang “gloomy dan susah cheerful” tidak seperti beruang-beruang pada umumnya. Semoga hantu melankolia segera terusir ^^;;;